Contact Form

Name

Email *

Message *

Jul 1, 2018

Pengertian Dan Peran Mahar atau Böwö Bagi Masyarakat Nias

Pengertian Dan Peran Mahar atau Böwö Bagi Masyarakat Nias
Mahar atau jujuran adalah pemberian yang wajib diberikan mempelai pria kepada pihak mempelai wanita ketika melangsungkan pernikahan.

Pemberian itu bisa berupa uang atau barang yang dijadikan akad nikah atau mas kawin sebagai syarat untuk mengesahkan acara pernikahan.

Dalam islam mahar dan jujuran memiliki perbedaan. Mahar adalah sesuatu yang wajib diberikan, bisa berupa apa saja seperti seperangkat alat sholat atau yang lainnya dan di jadikan sebagai mas kawin, sementara jujuran adalah sejumlah uang atau atau barang yang sebenarnya tidak wajib.

Nah dalam bahasa Nias mahar atau jujuran adalah Böwö. Menurut hukum adat nias sahnya suatu perkawinan apabila mahar atau Böwö telah diberikan oleh pihak pengantin laki-laki kepada pihak pengantin perempuan.

Sudah menjadi keharusan seorang laki-laki harus membayar mahar atau böwö, karena arti sesungguhnya böwö pada perkawinan suku nias adalah "hadiah" atau pemberian.

Pengertian böwö mengandung dimensi aktualisasi kasih sayang orang tua kepada anaknya, bukti perhatian orangtua kepada anaknya. Böwö terjadi karena pihak laki-laki menyatakan kasihnya kepada pihak keluarga perempuan dan tanpa böwö perkawinan tidak akan berlangsung.

Hal ini telah menjadi tradisi yang telah berlangsung terus menerus sehingga peranan böwö sangatlah penting dan dianggap baik dan akhirnya menjadikan böwö sebagai syarat perkawinan.

Syarat menikah bagi orang nias adalah mas kawin atau böwö yang terdiri dari uang, babi, emas, dan beras. Besarnya mas kawin atau böwö yang harus dibayar laki-laki tergantung dengan tingkat sosial orang tua pihak perempuan. Dimana bosi merupakan derajat status sosial masyarakat nias.

Hal yang paling menentukan mas kawin masyarakat adalah apabila anak gadisnya berpendidikan tinggi dan kaya, maka orangtua pasti akan meminta mas kawin yang sangat besar bagi laki-laki yang ingin melamar anaknya.
orang nikah

Pemberian mas kawin yang sangat besar bagi laki-laki dapat menunjukkan penghargaan yang tinggi pula kepada calon perempuan. Dan bagi pihak laki-laki hal ini menunjukkan bahwa nilai materia itulah yang meningkatkan bosi atau status derajat keluarga dalam masyarakat nias.

Kalau dulu  böwö masih sangat relevan di gunakan, karena sistem perekonomian di nias masih menggunakan sistem barter pada masa itu, artinya böwö di hitung berdasarkan jumlah babi dan bukan uang. Namun sekarang böwö itu dijadikan dalam bentuk materi atau uang.


Tentu saja hal itu akan menjadi beban kehidupan berlapis generasi, karena harga babi tidaklah murah, belum lagi beras dan emas.

Sesuai dengan perkembangan zaman, böwö itu tidak mudah lagi untuk di penuhi. Orang yang  akan menikah harus membayar jumlah mas kawin yang sudah di sepakati walaupun yang bersangkutan tidak mampu.

Akibatnya mereka harus melakukan pinjaman kepada kerabat terdekat, demi kelancaran prosesi lamaran pernikahan, artinya setelah menikah mereka harus menanggung utang yang di harus di lunasi pada waktunya.

Sementara perkawinan pada umumnya selalu bertujuan untuk mencari kebahagiaan, mempunyai keturunan, dan meningkatkan kesejahteraan hidup sehingga perkawinan bukan hanya mempersatukan dua individu. Namun lebih jauh adalah bersatunya keluarga besar antara pihak keluarga laki-laki dan pihak keluarga perempuan.

Hal inilah yang membuat böwö sedikit bergeser makna dan nilainya. Mestinya böwö datang dari ketulusan hati seseorang bukan karena di paksa menjadi syarat perkawinan.

Saat ini istilah böwö mengalami pergeseran menjadi gogoila (ketentuan). Dan untuk mencapai kesepakatan harus ditempuh dengan cara musyawarah. Dalam musyawarah itulah tawar menawar pun terjadi, berapa gogoila yang harus dibayar oleh pihak mempelai laki-laki.

Namun dibalik mirisnya tradisi böwö yang dianggap mahal dan menjadi membebankan, ternyata ada juga hikmah yang dapat diambil dari sana. Berikut Manfaat atau peran mahar (böwö) di dalam perkawinan adat nias.
  1. Menentukan derajat status sosial masyarakat nias
  2. Pengakuan penghormatan dan penghargaan terhadap martabat wanita
  3. Menjalin kekerabatan antara kedua pihak keluarga
  4. Sebagai simbol dan penghormatan dalam Budaya nias
  5. Mencegah terjadinya perceraian.

ibu ibu menari

Pengertian mahar atau böwö menurut hukum adat istiadat nias.

Kata böwö sebenarnya istilah yang merujuk kepada segala kebaikan (budi baik)  yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain tanpa pamrih. Sementara moböwö artinya suka memberi atau tidak pelit.

Dalam perkawinan nias böwö dipahami sebagai  mahar, atau jujuran adat. Ketika pengertian böwö ini dipisahkan dari pengertian yang dijelaskan di atas, maka ada suatu kecenderungan untuk melihat böwö hanya sebagai alat pembayaran. Dengan demikian kesan jual beli tak dapat di hindarkan lagi.

Orang nias yang mengenal secara mendalam makna böwö yang sesungguhnya akan tersinggung bila ia mendengar bahwa perkawinan dengan sejumlah böwö sebagai perdagangan/penjualan perempuan akan disebut "niha Silo Mangila huku" ( orang yang tidak punya adat).

Secara etimologi, pengertian mahar atau böwö adalah hadiah, pemberian yang cuma cuma. Sama halnya kalau kita memiliki hajatan, entah karena ada tamu atau ada pesta keluarga, dan pesta lainnya, lalu kita memberikan fanigero (jatah makanan) kepada tetangga kita secara cuma cuma.

Oleh karenanya tak heran jika masyarakat nias menyebut orang yang ringan tangan sebagai niha soböwö sibai.

Dari uraian cukup panjang di atas dapat kita simpulkan bahwa mahar atau böwö memiliki peranan sangat penting dalam hukum adat nias dan juga dapat di pahami bahwa böwö bukan seperti defenisi anda pikirkan sebelumnya.

Sebagai generasi muda khususnya yang berasal dari nias, harus menyadari bahwa adat istiadat nias tidak boleh di tinggalkan begitu saja. Adat istiadat merupakan warisan yang sangat berharga dari leluhur dan sebagai bentuk penghormatan  harus dilestarikan.

Namun setiap orang tua, tokoh agama dan juga pemerintah di nias harus mencoba menjadi pilar untuk mengubah tradisi yang justru membebankan. Dengan melakukan penyuluhan agar tidak menerapkan böwö yang sangat mahal dalam perkawinan.

Terima kasih.

Sumber dari hasil riset yang di himpun tim tanoniha.net.

0 komentar:

Post a Comment

Dilarang keras memberikan komentar yang tidak sesuai dengan Topik atau berbau isu sara, Pornografi, Judi, dan menyertakan link yang tidak terkait dengan artikel, Terimakasih.