Contact Form

Name

Email *

Message *

May 31, 2017

Tradisi leluhur nias yang aneh dan menakutkan

tradisi Berburu kepala suku nias
Saya tidak tahu apakah artikel ini pantas di publikasikan atau tidak, tapi yang jelas artikel ini di tulis bukan bermaksud menjelek-jelekan atau mengucilkan masyarakat nias.

Tradisi para leluhur nias kuno pada jaman dahulu memang benar-benar sungguh sangat menakutkan atau bisa di katakan tidak berperikemanusiaan, tradisi itu di sebut mangani binu atau mencari tumbal.

Berikut cerita dan kisah kronologisnya.

Mangani binu atau mencari tumbal

Sekitar sebelum tahun 1900an atau sebelum masuknya Agama Di nias.

Di sebuah desa kecil di gomo yang bernama desa Börönadu, hiduplah seorang manusia pemberani dan hebat dalam hal membunuh orang, orang tersebut bernama awuwukha, dialah pencetus atau pelopor tradisi mangani binu di Nias.

Motif dari tradisi ini bermula ketika, suatu hari datanglah seseorang dari sebuah desa di susua ke Börönadu, yang hendak menyampaikan kabar atau pengumuman bahwa di kampungnya akan di adakan sebuah pesta owasa yang cukup besar.

Dia bejalan di tengah perkampungan sambil meneriakkan pengumuman tersebut dengan harapan akan banyak warga desa Börönadu yang datang ke pesta tersebut.

Tapi ketika hendak melewati rumah awuwukha si pembawa kabar tersebut terhenti langkahnya karena ada teriakan seorang ibu yang cukup menggangu dirinya. Ternyata ibu itu adalah ibu awuwukha.

Ibu awuwukha tersebut mengejek bahkan melecehkan dirinya, terang saja si pembawa kabar tersebut sontak marah dan mendatangi ibu awuwukha, dia memukul tiang rumah ibu tersebut, dia pun kemudian pergi dan meninggalkan desa Börönadu.

Selang beberapa hari kemudian, ternyata si pembawa kabar tersebut datang lagi ke desa Börönadu dengan membawa rombongan, Niat nya untuk menuntaskan kemarahannya.

Rumah awuwukha dan ketujuh saudaranya di bakar oleh rombongan tersebut, termasuk lumbung padi milik Laimba atau Tokoh adat masyarakat Börönadu. awuwukha yang berada di situ hanya bisa diam berdiri dan mematung melihat kejadian tersebut.

Setelah rombongan tersebut pergi, awuwukha dengan menahan amarah yang sudah mencapai ubun ubun bersumpah kepada ibunya bahwa dia akan menuntut balas dengan cara memenggal kepala orang-orang yang terlibat dalam pembakaran tersebut.

Tanpa persetujuan dari ibu nya dan Laimba, awuwukha nekat pergi ke susua untuk menuntut balas.

Beberapa hari kemudian awuwukha pun pulang, dengan langkah tenang sambil membawa karung, dia pergi ke tempat Laimba untuk menunjukan karung yang berisi belasan kepala manusia. Ternyata Laimba tidak berkenan dengan hal itu.

Laimba sadar betul bahwa dengan kejadian tersebut pertumpahan darah akan berlanjut.

Dugaan Laimba ternyata benar, penduduk susua merencanakan pembunuhan terhadap awuwukha baik secara terang-terangan atau pun sembunyi-sembunyi.

Tapi semua itu berujung pada kegagalan. Awuwukha terlalu kuat untuk dibunuh. Kehebatan awuwukha pun tersiar sampai ke penjuru nias. Kehebatannya pun kemudian di kukuhkan dalam Upacara owasa.

Upacara owasa adalah upacara tertinggi dalam masyarakat nias. Jika seseorang telah melaksanakan owasa setiap perkataanya dengan sendirinya akan menjadi hukum. Sejak saat itu, setiap perkataan awuwukha harus di ikuti, bahkan sampai menjelang kematiannya.

Sebelum meninggal, Awuwukha berpesan kepada anak-anak dan seluruh anggota keluarganya , Jika dia meninggal, Dia ingin di kubur bersama lima kepala orang, yang akan melayaninya nanti di alam kubur.

Karena setiap perkataan awuwukha adalah hukum, maka wajib bagi anak-anaknya mencari lima kepala orang untuk menemani penguburan awuwukha. Karena tak kuasa menolak wasiat leluhur maka anak-anaknya terpaksa mangani binu.

Dugaan Laimba ternyata bukan sekedar kekhawatiran, tapi seolah-olah menjelma menjadi kutukan. Sebab, Mangani binu menjadi tradisi yang mengakar kuat di Nias.

Mangani binu tidak hanya di selenggarakan untuk menghormati dan menyenangkan leluhur tetapi di praktikkan juga dalam kepentingan-kepentingan lain misalnya membangun omo sebua dan Bahkan tradisi mangani binu juga berlaku bagi kaum lelaki yang akan meminang calon istrinya.

Dia harus mempersembahkan kepala musuh kepada keluarga calon mempelai perempuan. Semakin banyak jumlah kepala yang ditunjukkan di depan calon mertua, semakin berharga lelaki tersebut.

Bahkan bukan hanya pelakunya saja yang layak bangga, tetapi juga leluhur-leluhurnya, karena dianggap telah berhasil melahirkan keturunan yang hebat.

Namun, setelah ajaran Agama kristen mulai masuk ke pulau nias sekitar tahun 1900an, ritual-ritual adat di di nias mulai ditinggalkan.

Ajaran Agama Kristen melarang antarsesama manusia saling membunuh, mengutuk tradisi pemujaan terhadap roh leluhur, melarang mendirikan menhir dan membuat patung untuk mengenang leluhur yang sudah meninggal.

Melarang pesta-pesta besar karena terlalu boros, membuat pengaruh adat pelan-pelan semakin berkurang.

Namun keberhasilan misi Kristiani di Nias juga banyak ditentukan oleh strategi yang cerdik dalam mengkonversi ritual-ritual adat sehingga makna ritual tersebut menjadi bergeser.

Contohnya adalah diberlakukannya ritual fanano buno (menanam bunga) sebagai ganti ritual famaoso dalo (mengangkat kepala). Contoh lain adalah tradisi lompat batu di Nias.

Menurut sejarah, tradisi lompat batu baru berkembang di Nias bersamaan dengan hadirnya para penyebar injil di pulau nias.

Tradisi ini sengaja diciptakan untuk menghapus tradisi berburu kepala. Simbol kehebatan yang pada awalnya ditentukan oleh seberapa banyak jumlah kepala yang berhasil dipenggal, berusaha diganti dengan kemampuan melompati batu yang tinggi.


Bagi orang Nias yang meyakini agama Kristen sebagai panduan hidupnya, tradisi leluhur di atas memang sudah sepatutnya ditinggalkan. Jika mengenang tradisi leluhurnya yang banyak menampilkan sisi gelap, orang Nias seolah-olah berjuang keras untuk melawan beban sejarah dan trauma yang mendalam.

Meskipun tradisi mangani binu sudah lama di tinggalkan masyarakat nias, namun pembunuhan dengan cara memenggal kepala masih kerap saja terjadi di nias. Bayang-bayang emali (pemburu kepala) di masa lalu masih menghantui kehidupan kebanyakan orang di nias saat ini.

1 comment:

Dilarang keras memberikan komentar yang tidak sesuai dengan Topik atau berbau isu sara, Pornografi, Judi, dan menyertakan link yang tidak terkait dengan artikel, Terimakasih.