Contact Form

Name

Email *

Message *

May 19, 2017

ADAT PERNIKAHAN NIAS

Adat pernikahan nias

Tanoniha.net ~ Update 2018
Menikah adalah suatu momen yang mungkin hanya terjadi dalam kehidupan seseorang.

Sebelum menjalani kehidupan berumah tangga. Setiap pasangan harus menjalani acara atau ritual yang telah ditetapkan oleh adat tradisi suku atau agama.

Saya kira semua suku di Indonesia memiliki tradisi ritual pernikahan yang harus dijalani setiap pasangan, terkecuali kalau ada kendala atau kecelakaan.

Ritual pernikahan yang ada di Indonesia sangatlah beragam, menyesuaikan dengan keragaman sukunya.

Untuk menambah wawasan anda tentang adat pernikahan, disini kita akan membahas tentang tradisi tata urutan pernikahan adat nias.

Artikel ini juga sekaligus mewakili atau menepis tentang isu miring pernikahan suku nias yang marak beredar di masyarakat. Dan menjelaskan kenapa mahal nya jujuran atau mahar pernikahan suku nias.
Simak info nya baik-baik.
Baca : Pengertian Dan Peran Bowo Bagi masyarakat suku nias

Famatua (pertunangan)

Inilah tahap pertama yang harus anda lakukan. Caranya adalah pihak laki-laki menyampaikan lamaran secara resmi kepada pihak perempuan.

Dalam acara famatua pihak laki-laki harus membawa afo si sara atau sirih pertama berupa :
  • Tawuo atau sirih
  • Betua atau kapur sirih
  • Gambe atau gambir
  • Fino atau pinang
  • Bago atau tembakau

Semua bahan tersebut dimasukkan dalam satu wadah yang di sebut bola afo atau bola-bola. Acara famatua ini di langsungkan di rumah pihak perempuan. 

Dalam tahap ini adat seterusnya masih bisa di batalkan apabila ada suatu masalah atau kedua belah pihak berubah pikiran. Istilah nya fohu-fohu bulu ladari atau diikat dengan daun ladari.

Bolanafo (wadah sirih)

Apabila tahap pertama sudah anda lalui, dan telah di setujui oleh pihak perempuan, selanjutnya pihak laki-laki membawa bolanafo kepada pihak perempuan.

Bolanafo ini harus berisi sekitar 100lembar daun sirih, 25 gambir, tembakau 1 ons, pinang 20 buah, dan kapur sirih 2 ons.

Semua bahan tersebut disusun rapi dalam bolanafo biasanya ada juga yang menyelipkan cincin suasa dalam bolanafo, jikalau di selipkan cincin emas berarti anda menantang jujuran dari pihak perempuan.

Fangoro (kunjungan ke rumah calon mertua)

Anda atau pihak laki-laki  akan di minta untuk berkunjung kerumah calon mertua, anda hanya boleh  pergi bersama adek laki-laki atau teman anda serta nasi serta lauk seekor anak babi.

Sesampai disana anda akan di sambut dan di sediakan pula makan dengan lauk anak babi juga, anda juga akan untuk membawa bekal makanan sebagai oleh-oleh ketika pulang.

Fanema bola (penentuan jujuran)

Ini adalah tahap krusial, disini akan di tentukan berapa mahar yang harus di tebus oleh pihak laki untuk melangsung pernikahan nantinya.

Dalam penentuan jujuran ini akan di langsungkan di rumah pihak laki-laki, jadi pihak perempuan datang berkunjung kerumah pihak perempuan tanpa calon penganti perempuan, hanya saudara laki-laki atau wali pihak perempuan tersebut.

Dalam acara ini pihak perempuan akan disambut dengan hidangan 2 ekor babi di potong sama rata dan di makan bersama.

Tradisi penentuan jujuran di sebut femanga bawi nisila hulu yang berarti seekor babi dibelah menjadi Dua dari kepala sampai ekor, separuh untuk pihak perempuan dan separuh untuk pihak laki-laki, artinya sebagai simbol kesepakatan, dan mempersatukan dua keluarga.

Ini menandakan bahwa lamaran sudah deal dan tidak bisa di ganggu gugat. Apabila salah satu pihak membatalkan lamaran maka mereka akan didenda berkali-klai lipat, bahkan bisa saja terjadi perang karena malu.
Nama tradisi ini berbeda - beda pada kampung tertentu seperti:
  • Fanunu manu sebua untuk daerah laraga dan sekitarnya.
  • Famorudu nomo untuk daerah moro'o dan sekitarnya.
  • Fangerai bowo untuk daerah aramo dan sekitarnya.
  • Fanofu bowo untuk daerah Bawömataluo dan sekitarnya.

Famekola (penyerahan mahar jujuran)

Dalam tahap ini pihak laki-laki akan mengunjungi rumah pihak perempuan untuk menyerahkan jujuran sesuai dengan kesepakatan fanema bola.

Pihak perempuan akan menyambut dengan 3 ekor babi. Babi itu nantinya akan dibagi 1 ekor untuk rombongan pihak laki-laki yang datang, 1 untuk ibu calon mempelai laki-laki, dan yang satu lagi untuk di bawa pulang hidup-hidup.

Fanua bawi (persiapan babi adat)

Tahap ini adalah untuk mempersiapkan babi untuk acara pesta nanti. pihak perempuan datang kerumah pihak laki-laki untuk melihat babi yang di gunakan apakah sesuai atau lolos seleksi karena babi yang lolos seleksi hanyalah babi yang yang beratnya mencapai 100kg atau lebih.

Babi tidak boleh cacat, ekor babi harus panjang dan warnanya harus sama atau tidak belang.
Setelah melihat babi, kalau dirasa cocok maka akan ditentukan hari dan tanggal pernikahan.dan mempersiapkan segala persiapan pernikahan.

Fame'e  (nasehat)

Tepatnya 3 hari sebelum pernikahan calon mempelai laki-laki akan disuruh mengunjungi rumah calon mertuanya. Calon mempelai laki-laki hanya boleh di temani oleh teman nya sambil membawa sirih. disana calon mempelai laki-laki dan perempuan akan di beri nasehat dan tuntunan tentang cara hidup berumah tangga.

Folau bawi (mengantar babi adat)

Sehari sebelum pesta pernikahan pihak laki-laki harus mengantar beberapa ekor babi ke rumah keluarga perempuan. Babi Adat ini diberangkatkan dari rumah keluarga laki-laki dengan upacara tertentu, dan disambut oleh pihak perempuan juga dengan upacara tertentu dengan syair yang berbalas-balasan.

Kedatangan rombongan pihak laki-laki disambut dengan memotong dua ekor babi yang dimakan bersama juga untuk dibawa pulang.
Acara ini disebut Fondröni Bawi.

Falowa (pesta pernikahan)

Inilah dia puncaknya atau hari yang paling di tunggu-tunggu. Pada hari pernikahan Paman datang dan disambut dengan memotong babi penghormatan Rombongan penganten Pria datang membawa keperluan Pesta.

Menyerahkan sirih tanda penghormatan Penyelesaian böwö untuk Tölamböwö (orang tua kandung) menerima emas dan Bulimböwö Famili terdekat menerima  emas dan dibagi rata ke semua.

Demikian juga I’o Naya Nuwu (Mahar untuk Paman) juga turut dibayarkan Puncak acara dilaksanakan fanika gera-era (membuka pikiran) yaitu perhitungan kembali semua mahar (Jujuran/böwö atau disebut juga böli gana’a) baik yang sudah maupun yang belum dilunasi, oleh pihak keluarga laki-laki.

Tradisi ini telah ada dari zaman leluhur nias dulu dan masih tetap bertahan sampai sekarang, walaupun sebagian sudah ada yang di revisi.
Bagaimana menurut anda?
Terlihat ribet dan membutuhkan biaya yang sangat besar sepertinya. Tapi kembali ke paragraf pertama tadi, momen pernikahan kan hanya terjadi sekali dalam seumur hidup. Jadi tidak ada salahnya donk mencoba sesuatu yang berbeda apalagi kalau terkesan unik dan menarik.

Kalau masalah besarnya mahar atau jujuran pernikahan di nias, sebenarnya.. saya rasa masih relatif standar kok, jauh beda donk dengan artis artis atau orang kaya yang bisa menelan biaya sampai miliaran rupiah.

Toh mahar atau jujuran pernikahan tersebut, di gunakan untuk biaya pesta atau istilahnya mentraktir orang sekampung atau saudara jauh. jadi bukan sepenuhnya untuk orangtua atau saudara pihak perempuan.

Kesimpulan: 
→Perempuan di nias dianggap memiliki nilai yang tinggi dan sangat di lindungi.
→Semakin tinggi mahar atau jujuran, maka semakin meriah dan berkesan pula pesta nya. Semakin banyak juga tamu yang bisa di undang untuk merayakan atau memeriahkan pesta, dan juga bermartabat.

Terimakasih.

0 komentar:

Post a Comment

Dilarang keras memberikan komentar yang tidak sesuai dengan Topik atau berbau isu sara, Pornografi, Judi, dan menyertakan link yang tidak terkait dengan artikel, Terimakasih.